Thinking Of

Tersenyumlah...!!!
maka duniamu akan menjadi lebih indah...

Pengikut

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 29 Oktober 2012

Sapa-anQ

Assalamualaikum......

Hai-hai... haiiiiii.....
Lamanya baru bisa nge-entri lagi di blogQ yang tercinta ini #lebay dech.... :P
Disebabkan dengan kesibukanQ dengan kerjaan, makanya baru punya kesempatan buka halaman ini hehehehe.... padahalnya emang karena penyakit malas lagi berkuasa.
Setelah beberapa bulan lamanya, setelah melewati bulan Ramadhan dan dua kali (2x) lebaran yakni Lebaran Idul Fitri + Idul Adha (Lebaran Haji), setelah mengalami rasa rindu sama blogQ ini, inilah di kesempatan ini (di hari ini) saya bisa meluahkannya dengan mencoretkan kalimat-kalimat yang tak seberapa penting dan terkesan mengada-ada hkhkhkhkhk....

Tak ada yang penting dalam entri kali ini, hanya sekedar pengen menyapa lineQ ini, karena sudah lama tak terjamah dengan kalimat-kalimat yang kelewat over+lebay. Obsesi untuk menjadi seorang penulis masih terhambat dengan skill yang terbatas dan sejauh ini hanya bisa menjadi seorang pembaca #serasa sedih juga sech .... Sedangkan tujuan saya membuat blog selain untuk menjadikan diary ialah menorehkan beberapa ilham yang ada dalam pikiranQ dan imajinasi yang selalu nyangkut dalam kepala,, akan tetapi skill untuk menjadikannya sebuah kalimat ke paragraf ke chapter sampai kepada tahap Cerpen dan yang peling cemerlang ialah Novel #MimpiQ. cukup untuk menjadi mimpi, InsyaAllah bisa tercapai... Amin ya Rabb...

Okaylah, cukup sampai di sini segala uneg-unegQ yang terbuku dalam hati.... Berhubung mau Closing dan bersiap-siap back to home, nanti disambung lagi....


Chiaaaoouuuu.....



 = Nitip Doraemon ya... jangan diganggu karena lagi sibuk !!! =

Selasa, 23 Oktober 2012

Menunggu si 'Pemberi Harapan'


Mulanya "Insyaallah, saya akan menunggu"
beberapa minggu kemudian "semoga saya bisa menunggu#meyakinkan diri sendiri#

setelah beberapa bulan "saya hanya bisa menunggu" #keyakinan yg semakin pudar#

Setahun kemudian, dengan segaris senyuman "alhamdulillah, saya masih di sini dan terus menunggu"

Meskipun, menunggu itu sesuatu yg tidak nyaman... serasa sesak napas berada pada situasinya...
Tapi hakekatnya, dia (si wanita) hanya bisa menunggu dan terus menunggu....

 
 
Gadis itu termenung sendiri menatap potongan-potongan gambar serta memo yang berada pada notebook miliknya. Tanpa dia sadari mutiara-mutiara bening mengalir di tubir matanya, karena kenangan beberapa waktu yang lalu kembali bermain... 
 
Hanya dengan sebuah kalimat yang mampu membuatnya yakin untuk bersabar dan tetap menunggu.
Menunggu kata pasti darinya, menunggu pengakuan darinya...
Saat-saat itu lah yang paling melelahkan.
Sampai tiba pada saatnya, semua itu tidak ada artinya lagi.
Di saat mengetahui dia sudah berpaling dari janjinya. 
Saat itu tak ada air mata, hanya senyum yang mampu terukir untuk berusaha menentramkan hati yang nyaris runtuh.
Hanya sesak yang dirasakan saat itu, bagaikan sebuah batu yang terhempap di dalam dada.
Hingga suatu hari air mata yang selama ini tertahan tumpah ruah bersama isak tangis.
Kabar burung yang selama ini didengarnya menjadi kenyataan... Dihadapan mata terbentang sebuah undangan walimatul.
Tak ada seorang pun yang mampu menenangkan hatinya,
Tak ada beberapa patah kata lagi dari sahabat yang bisa menguatkannya...
Segala kesalahpahaman, kekecewaan, penyesalan menguak ke permukaan...

Tapi hakekatnya, segala rasa yang ada pada diri tak hanya sepihak, dia si 'pemberi harapan' juga merasakan hal yang sama...

"Mengapa, kau memberikan harapan ???" kata si gadis, bersama isak tangis.
"Mengapa, kau tidak pertahankan ???" katanya, sambil menekan dada yang terasa sesak...
 
Kenangan pahit telah terpahat kukuh, di mana sebuah penantian yang berbuah kekecewaan dan penyesalan.
kecewa akan dia (si pemberi harapan) dan diri sendiri yang terlalu yakin, sesal dan menyesal akan rasa yang bermukim di hati. sehingga tanpa sadar bersama-sama telah menzahirkan impian-impian di masa depan, yang sekarang hanya sekedar mimpi belaka.
 
Ternyata salah, Air mata terus mengalir di hari itu tanpa henti. Tapi hanya sehari, karena hari-hari selanjutnya terus ia lalui bersama senyuman. Tanpa ada yang tau bahwa si gadis melauinya begitu berat, karena sampai sekarang hatinya masih terasa sakit. Membuatnya sulit untuk membuka hatinya untuk 'si pemberi harapan' yang lainnya. Bukan bermaksud sombong, akan tetapi lebih menjaga diri serta hatinya untuk seseorang yang halal baginya dan serius akan harapan yang telah ditebarkan untuk masa depan.




---------------------------------------------------------------------------------------------------------